my prince

my prince
4910

Jumat, 03 Februari 2012

askep DM


A.     Pengertian
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

B.      Klasifikasi
Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
  1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
  2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
  3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
  4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)

C.     Etiologi
  1. Diabetes tipe I:
a.       Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b.      Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c.       Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
  1. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a.       Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b.      Obesitas
c.       Riwayat keluarga










D.     Patofisiologi/Pathways
 
Defisiensi Insulin
 

                                                   glukagon↑                             penurunan pemakaian
glukosa oleh sel

                         glukoneogenesis                                 hiperglikemia
 

       lemak                  protein                   glycosuria

   ketogenesis                BUN↑             Osmotic Diuresis
Kekurangan volume cairan
 
 

     ketonemia       Nitrogen urine ↑           Dehidrasi

Mual muntah
 
         ↓ pH                                              Hemokonsentrasi
 

Resti Ggn Nutrisi
Kurang dari kebutuhan
 
                    Asidosis                                          Trombosis
§  Koma
§  Kematian
 
 

                                                                         Aterosklerosis
 

Mikrovaskuler
 
Makrovaskuler
 
   
 














E.      Tanda dan Gejala
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
1.     Katarak                                    
2.     Glaukoma
3.     Retinopati
4.     Gatal seluruh badan
5.     Pruritus Vulvae
6.     Infeksi bakteri kulit
7.     Infeksi jamur di kulit
8.     Dermatopati
9.     Neuropati perifer
10. Neuropati viseral
11. Amiotropi
12. Ulkus Neurotropik
13. Penyakit ginjal
14. Penyakit pembuluh darah perifer
15. Penyakit koroner
16. Penyakit pembuluh darah otak
17. Hipertensi

Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.
Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.
Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.
F.      Pemeriksaan Penunjang
  1. Glukosa darah sewaktu
  2. Kadar glukosa darah puasa
  3. Tes toleransi glukosa
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)

Bukan DM
Belum pasti DM
DM
Kadar glukosa darah sewaktu
-          Plasma vena
-          Darah kapiler
Kadar glukosa darah puasa
-          Plasma vena
-          Darah kapiler


< 100
<80


<110
<90


100-200
80-200


110-120
90-110


>200
>200


>126
>110
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
1.      Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2.      Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3.      Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

G.     Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1.      Diet
2.      Latihan
3.      Pemantauan
4.      Terapi (jika diperlukan)
5.      Pendidikan

H.    Pengkajian
§  Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
§  Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
§  Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.

§  Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah
§  Integritas Ego
Stress, ansietas
§  Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
§  Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
§  Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.
§  Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
§  Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
§  Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit.

I.        Masalah Keperawatan
  1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan
  2. Kekurangan volume cairan
  3. Gangguan integritas kulit
  4. Resiko terjadi injury

J.       Intervensi
  1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.
      Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
§  Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
§  Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
Intervensi :
§  Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
§  Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.
§  Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.
§  Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.
§  Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.
§  Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.
§  Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.
§  Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.
§  Kolaborasi dengan ahli diet.

  1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.
Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.

Intervensi :
§  Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik
§  Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
§  Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas
§  Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
§  Pantau masukan dan pengeluaran
§  Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung
§  Catat hal-hal  seperti mual, muntah dan distensi lambung.
§  Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur
§  Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K)

  1. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).
      Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan    penyembuhan.
Kriteria Hasil :
Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi
Intervensi :
§  Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut.
§  Kaji tanda vital
§  Kaji adanya nyeri
§  Lakukan perawatan luka
§  Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.
§  Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.



  1. Resiko terjadi injury berhubungan dengan  penurunan fungsi penglihatan
Tujuan : pasien tidak mengalami injury
Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury
Intervensi :
§  Hindarkan lantai yang licin.
§  Gunakan bed yang rendah.
§  Orientasikan klien dengan ruangan.
§  Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
§  Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi




DAFTAR PUSTAKA

Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.

Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.

Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.

Ikram, Ainal,  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.

Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002


Jumat, 25 November 2011

Penanganan Tukak Diabetik Menggunakan Dressing Modern

Tukak diabetik merupakan tukak dengan angka kejadian paling sering muncul dibandingkan tukak lain dari keseluruhan pasien yang mengalami tukak. Berdasarkan data dari Divisi Bedah Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2009, dari 202 pasien yang mengalami tukak, 184 di antaranya merupakan pasien tukak diabetik. Sementara, sisanya adalah tukak dekubitus, tukak vena, dan tukak arteri. Menurut patofisiologinya, luka kronik terdiri dari empat macam, yakni tukak pressure, tukak diabetik, tukak vena, dan tukak arteri. Demikian dikatakan Dr. Teguh Marfen Djayakusumah, SpB(K)V, dalam acara Workshop yang merupakan bagian dari rangkaian Annually Indonesian Vascular Update II & Indonesian Vascular Surgery Meeting Symposium-Workshop. Pertemuan Ilmiah Tahunan ahli bedah vaskular yang mengangkat tema “Diminishing Vascular Problem Through the Best Treatment,” ini diselenggarakan pada 24-25 April 2010, di Padang Golf Modern, Tangerang, Banten. Berbicara mengenai tukak diabetik, Dr. Raflis Rustam, SpB(K)V, yang kami temui di sela-sela acara workshop yang disponsori oleh PT BSN medical Indonesia tersebut mengatakan, ”Penderita diabetes yang tidak terkontrol memiliki kemungkinan besar terkena tukak.” Tukak tersebut terjadi karena adanya tekanan dan rangsangan pada pengerasan telapak kaki. Tekanan dan rangsangan ini mengiritasi jaringan sekitarnya dengan trauma yang kecil. Luka kecil ini menjadi sumber masuknya bakteri penyebab infeksi. Menanggapi pendapat yang menyatakan tukak diabetik harus selalu diamputasi, dokter yang bertugas di Bagian Bedah Rumah Sakit M. Djamil, Padang, ini mengatakan, ”Tidak, tidak harus diamputasi. Amputasi dilakukan hanya pada kasus yang berat sekali di mana jaringan di daerah tersebut sudah mati.” Sebaliknya, pada tukak diabetik yang jaringannya masih hidup sebaiknya dilakukan perawatan dengan memeriksa perfusi, luas dan dalam luka, kultur, serta esensibilitas. Jadi, jika terjadi tukak diabetik harus dilakukan pera­watan sebaik mungkin. “Kita harus yakin bahwa nutrisi ke bagian distal bagus karena me­raw­at luka tanpa perfusi yang bagus akan memerlukan waktu yang lama sekali, ” ungkapnya. Pada luka yang basah, harus diberikan absorben dressing, kata dokter yang menyelesaikan pendidikan bedah vaskular di FKUI ini. Sekarang sudah ada dressing modern yang tidak ha­nya sebagai antimikrobial, tetapi juga bisa tetap mempertahan­kan kelembaban luka. Bakteri akan terikat pada dressing dan terangkat saat pergantian dressing. Dengan kelembaban yang tetap terjaga dan disertai de­ngan pembalutan, penyembuhan luka lebih terfasilitasi. Pembalutan ini berguna untuk memperbaiki sirkulasi vena yang ada. Meski kelainan tukak diabetik berkaitan dengan arteri, tetapi sistem vena biasanya juga terganggu. “Penggunaan dressing modern efektif untuk me­na­ngani tukak diabetik,” ujarnya. Mengenai penggunaan dress­ing modern dalam pe­nanga­nan tukak diabetik, Dr. Ismon Kusasi, SpB(K)V, menyata­kan, “Dressing yang ideal adalah yang lembab, hangat, dan steril. Syarat ini dipenuhi oleh modern wound dressing yang ada sekarang dan banyak beredar.” Intinya, dressing moder­n bertujuan untuk mempercepat penyembuhan dan menghemat waktu serta biaya. Jika dihitung per satuan, penggunaan dressing ini kelihatan lebih mahal, namun jika dilihat secara keseluruhan cost-nya lebih murah. Misalnya, penggunaan dressing konvensional harus empat kali ganti dalam seha­ri, sedangkan dengan dressing modern hanya cukup sekali dua hari. “Dressing itu sifatnya seperti pakaian, individual,” ungkap Dr. Patrianef, SpB. Artinya, peng­gunaan dressing disesuaikan dengan kondisi tukak. Misalnya, penggunaan dressing pada tukak yang banyak slough dan ada rongganya berbeda dengan tukak yang sudah epitelisasi di permukaan saja. Untuk tukak yang ber-slough diperlukan hydro­gel (Cutimed® gel) agar jaringan slough/nekrotik dapat melunak dan sebagai secondary dressing dapat diaplikasikan Cutimed® Sorbact® Round swab sehingga semua rongga terisi. Sedangkan tukak yang suda­h ada epitelnya cukup mem­pertahankan kelembabannya menggunakan foam dressing Cutimed® Siltec L. “Tujuan penggunaan dressing modern adalah sembuh dengan cepat,” ujar Dr. Ismon meyakinkan. Menanggapi acara workshop kali ini, Dr. Patrianef menga­takan bahwa acara semacam ini merupakan cara efektif untuk membagi pengetahuan kepada dokter-dokter dan perawat mengenai penggunaan dressing yang baik dan bena­r. “Kami dokter tidak akan mampu melakukan edukasi semacam ini tanpa bantuan mitr­a seperti PT BSN medical Indonesia ,” ungkapnya. Tidak hanya bagi dokter, workshop kali ini juga sangat bermanfaat bagi perawat. Seperti diungkapkan oleh Susi Alfianti, Amd, dari Sidhartawan Soegondo Diabetes Care, denga­n mengikuti acara ini, ia jadi lebih mengetahui proses penyembuhan luka, baik tukak pressure, tukak diabetik, tukak arteri, maupun tukak vena. “Saya jadi semakin memahami cara menggunakan dressing modern untuk penyembuhan tu­kak diabetik,” katanya. Pe­rawat yang banyak menangani tukak diabetik ini menyatakan bahwa harga dressing modern per satuan memang kelihatannya lebih mahal, namun waktu penyembuhannya lebih cepat sehingga total cost menjadi lebih murah. “Dengan menggunakan dressing seperti Cutimed® Sorbact® selama tiga hari, terjadi kemajuan yang sangat signi­fikan.” Ia mengharapkan acara semacam ini dapat dilakukan di rumah sakit-rumah sakit agar lebih banyak perawat yang dapa­t mengikuti edukasi ini. Selain itu, edukasi juga perlu dilak­ukan. Tidak hanya di rumah sakit di kota-kota besar, tetapi di kota-kota kecil juga perlu dirambah agar informasi mengenai dressing modern ini menjadi lebih merata

perawatan modern dressing

FAKTA SEPUTAR PENYEMBUHAN LUKA Lingkungan luka yg seimbang kelembabannya memfasilitasi pertumbuhan sel dan proliferasi kolagen didalam matrik non selular yg sehat. Pada luka akut moisture balance memfasilitasi aksi faktor pertumbuhan, cytokines dan chemokines yang mempromosi pertumbuhan sel dan menstabilkan matrik jaringan luka. Excess moisture / terlalu lembab di atas luka dapat merusak proses penyembuhan luka dan merusak sekitar luka, menyebabkan maserasi tepi luka. Inadequate moisture / kurang lembab pada luka karena biasanya karena luka terpapar udara memicu terjadinya wound desiccation, necrosis, dan pembentukan eschar menyebabkan perkembangan luka yang jelek. Pembentukan eskar dapat memperlambat regenerasi sel (keratinocytes) berpindah dari tepi luka ke tengah luka. Epithelialization ideal pada permukaan yang rata, migrasi yang optimal akan terhalang bila terjadi pembentukan eskar. “MOISTURE BALANCE” Why “moist wound care” Kondisi kurang lembab / kering menyebabkan kematian sel, dan tidak terjadi perpindahan epitel dan jaringan matrik. Terlalu basah menyebabkan eksudat menghambat proloferasi sel dan menyebabkan rusaknya matrik komponen. Moisture balance memfasilitasi proses penyembuhan luka  dijaga dengan memilih jenis balutan yang sesuai sehingga luka terjaga kelembabannya. Menciptakan suasana lembab Konvensional, kasa dan Na Cl prinsip wet to moist, luka dikompres kasa lembab, kasa diganti sebelum kering, memerlukan penggantian kasa yang sering. Modern , menggunakan modern dressing, misal : ca alginat, hydrokoloid, dll. BALUTAN KONVENSIONAL VS MODERN Balutan Konvensional. Sering diganti untuk mendapatkan kelembaban (bisa sehari 1 -2 / 3 kali ). Balutan cepat kering dan kurang menyerap eksudat. Berisiko menimbulkan trauma baru pada saat penggantian luka. Menimbulkan nyeri pada saat penggantian luka. “Lebih murah” tapi sering mengganti kasa. Balutan Modern Bisa mempertahankan kelembaban luka lebih lama (5-7 hari). Mendukung penyembuhan luka, kondisi lembab lebih lama dan memacu proses kesembuhan luka. Penyerapan eksudat bagus. Tdk menimbulkan nyeri saat penggantian balutan. “lebih mahal”  “cost efektif” penggantian pembalut 3-4 hari. MENGENAL MODERN DRESSING Berdasar Fungsi : Autolitik debridement, contoh : hydrogel / hydroaktif gel. Absorbent contoh : Ca Alginate, Hydroselulosa, Foam, Balutan primer / balutan yg menempel ke luka, contoh : calsium alginat, hydroselulosa, hydrokoloid, foam Balutan sekunder / balutan penutup setelah balutan primer ,contoh: hydrokoloid, foam, transparant film CONTOH JENIS-JENIS MODERN DRESSING : Hydrogel / hydroaktif gel Menciptakan lingkungan luka tetap lembab Melunakan dan menghancurkan jaringan nekrotik tanpa merusak jaringan sehat, yg akan terserap ke dalam struktur gel dan terbuang bersama pembalut Meningkatkan autolytik debridemen secara alamai Tidak menimbulkan trauma dan sakit saat penggantian bautan Dapat diaplikasikan 3 – 5 hari Indikasi : luka nekrotik dalam / permukaan misal : ulkus decubitus, ulkus diabetikum Ca Alginat Terbuat dari rumput laut Untuk luka dengan eksudat sedang sampai banyak Kandungan Ca dapat membantu menghentikan perdarahan Digunakan pada fase pembersihan luka dalam maupun permukaan, dengan cairan banyak, maupun terkontaminasi Mengatur eksudat luka dan melindungi terhadap kekeringan dg membentuk gel Dapat menyerap luka > 20 kali bobotnya Tidak lengket pada luka, tdk sakit saat mengganti balutan Dapat diaplikasikan selama 7 hari Indikasi : luka decubitus, ulkus diabetik, luka operasi ,luka bakar deerajat I dan II, luka donor kulit , dll Hydroselulosa Untuk luka dg produk eksudat banyak Menciptakan lingkungan lembab yg mendukung proses kesembuhan luka Mampu menyerap cairan 2 kali lipat dari ca alginat Mampu mengunci bakteri dalam cairan luka / balutan Tdk sakit saat penggantian balutan Dapat diaplikasikan selama 7 hari Hydrokoloid Digunakan untuk luka dg eksudat minimal sampai sedang Menjaga kestabilan kelembaban luka dan sekitar luka Menjaga dari kontaminasi air dan bakteri Bisa digunakan untuk balutan primer dan balutan sekunder Dapat diaplikasikan 5 – 7 hari Foam Digunakan untuk menyerap eksudat luka sedang, sedikit banyak Tidak lengket pada luka Menjaga kelembaban luka, menjaga kontaminasi dan penetrasi bakteri dan air Balutan dapat diganti tanpa adanya trauma atau sakit Dapat digunakan sebagai balutan primer / sekunder Dapat diaplikasikan 5-7 hari Transparant film Dapat digunakan sebagai bantalan untuk pencegahan luka dekubitus Pelindung sekitar luka terhadap maserasi Sebagai pembalut luka pada daerah yg sulit Pembalut/penutup pada daerah yang diberi terapi salep Sebagai pembalut sekunder Transparan, bisa melihat perkembangan luka Breathable Tidak tembus bakteri dan air, pasien bisa mandi

PERAWATAN LUKA PENDERITA DIABETES MELITUS

PERAWATAN LUKA PENDERITA DIABETES MELITUS PENDAHULUAN Diabetes Melitus atau penyakit kencing manis adalah penyakit menahun (kronis), yang ditandai oleh kadar glukosa (gula) di dalam darah tinggi. Kadar glkosa darah yang normal pada waktu puasa tidak melebihi 100 mg/dl dan 2 jam sesudah makan kurang dari 140 mg/dl. Kadar glukosa darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan timbulya gejala-gejala seperti : sering kencing, rasa haus dan rasa lapar yang berlebihan, sering mengalami infeksi, letih lesu, berat badan menurun, dll. Namun dapat pula terjadi pada beberapa penderita DM yang tidak merasakan gejala-gejala tersebut diatas dan penyakitnya ditemukan secara kebetulan, misalnya pada waktu pemeriksaan kesehatan rutin. Apabila pada seseorang penderita kencing manis kadar glukosa darahnya tinggi dalam jangka waktu yang lama, maka akan timbul komplikasi menahun (kronis yang mengenai mata menyebabkan gangguan penglihatan bila mengenai sistem syaraf akan menyebabkan gangguan rasa dan gangguan bila mengenai ginjal menyebabkan gangguan fungsi ginjal). Adapun gambaran luka padapenderita kencing manis dapat berupa: demopati (kelainan kulit berupa bercak-bercak bitam di daerah tulang kering), selulitis (peradangan dan infeksi kulit), nekrobiosisi lipiodika diabetik (berupa luka oval, kronik, tepi keputihan), osteomielitis (infeksi pada tulang) dan gangren (lika kehitaman dan berbau busuk). TERJADINYA LUKA DIABETIK Ada beberapa yang mempengaruhi : 1.Neuropati diabetik. Adalah kelainan urat saraf akibat DM karena tinggi kadar dalam darah yang bisa merusak urat saraf penderita dan menyebabkan hilang atau menurunnya rasa nyeri pada kaki, sehingga apabila penderita mengalami trauma kadang-kadang tidak terasa. Gejala-gejala Neuropati : Kesemitan, rasa panas (wedangan : bahasa jawa), rasa tebal ditelapak kaki, kram, badan sakit semua terutama malam hari. 2.Angiopati Diabetik (Penyempitan pembuluh darah) Pembuluh darah besar atau kecil pada penderita DM mudah menyempit dan tersumbat oleh gumpalan darah. Apabila sumbatan terjadi di pembuluh darah sedang/ besar pada tungkai maka tungkai akan mudah mengalami gangren diabetik yaitu luka pada kaki yang merah kehitaman dan berbau busuk. Adapun angiopati menyebabkan asupan nutrisi, oksigen serta antibiotik terganggu sehingga menyebabkan kulit sulit sembuh. 3.Infeksi Infeksi sering merupakan komplikasi akibat berkurangnya aliran listrik (neoropati) PERAWATAN KAKI PENDERITA DM. Mengingat segala kemungkinan dapat terjadi pada penderita DM akibat gangguan pembuluh darah maupun syarafnya, maka perlu dilakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi luka, sebagai berikut: 1. Penderita harus mencuci kakinya setiap hari dengan teratur, sesudah dicuci dikeringkan dengan seksama (terutama pada sela-sela jari kaki) 2. Dapat dipakai bedak atau lotion. 3. Pada penderita dengan komplkasi kronis DM, sebaiknya jangan menggunakan air hangat atau air panas untuk merendam kaki, oleh karena kepekaan rasa di kaki untuk panas berkurang sehingga penderita tidak merasakan apa-apa, walaupun kakinya melepuh. 4. Apabila penderita merasa kakinya dingin, sebaiknya memakai kaos kaki, Sebaiknya memilih kaos kaki yang bahannya wol atau katun. Kaos kaki tersebut sebaiknya juga dipakai sewaktu tidur. 5. Apabila memakai sepatu atau sandal, perlu diperiksa apakah alas kakinya licin dan rata. 6. Apabila membeli sepatu baru, sebaiknya diperhatikan : sepatu jangan terlalu sempit, sebaiknya sepatu yang kulitnya lemas, pada awalnya sepatu tersebut dipakai beberapa jam saja, untuk membiasakan diri. 7. Pada penderita DM yang mengalami gangguan syaraf sebaiknya jangan berjalan tanpa alas kaki, karena dapat terkena luka tanpa penderita menyadarinya. 8. Sela-sela jari kaki perlu diperiksa, apakah terdapat luka atau kulit yang pecah-pecah, yang disebabkan oleh jamur kaki. Bila ada, cepat pergi ke dokter untuk diobati. LUKA-LUKA DI KAKI Perlu diperhatikan. Setiap hari kaki harus diperiksa dengan seksama minimal 1 kali. Ini sangat penting untuk menemukan luka secara dini atau perubahan warna kulit seperti kemerahan, jangan sungkan untuk pergi ke dokter walaupun hanya luka-luka kecil sekalipun. aPengalaman merawat luka pada penderita DM. Berikut adalah kasus perawatan ulkus DM terinfeksi dengan abses besar di sisi lateral metakarpal dextra (kanan). Perawatan ulkus ini mengenai pasien wanita berusia 40 tahun yang dirujuk ke klinik rawat jalan dengan kasus gawat darurat label kuning 2 (gawat tidak darurat) kondisi saat ini terdapat luka terbuka, diatas metakarpal dextra sudah berlangsung 2 minggu, pasien mulai murung dan stres karena tidak dapat melakukan aktifitas sehari-hari serta bekerja sebagai pedagang kain dengan alam terbuka. Dari pemeriksaan diketahui terdapat luka terbuka berukuran 10 x 7 cm pada sisi lateral metakapral dextra, dibawah luka terdapat luka yang berfluktuasi, dan seluruh daerah kemerahan serta sudah mulai terdapat nekrose (jaringan mati) pada permukaan kulit. Parawatan luka ini tidak terlalu rumit apabila ada kerjasama antara pasien dengan petugas kesehatan, pasien bersedia dilakukan perawatan secara rutin dengan keyakinan luka akan sembuh. Perawat melakukan perawatan dengan sabar dan teliti serta profesional. Sebelum kita melakukan perawatan luka periksa GDS (Gula Darah Sewaktu) kemudian baru kita lakukan tindakan incisi abses serta nekrotomi sebelumnya kita berikan cairan antiseptik dengan betadin cair dan anestesi untuk menghilangkan rasa sakit, kaluarkan semua pus (nanah), gunting jaringan yang mati atau yang berwarna hitam, cuci dengan perhidrol kemudian bilas dengan cairan Na Cl 0,9 %, pasang tampon dengan betadin yang diencerkan dengan Na Cl 1:1 selama masih ada pus dan diganti setiap hari, apabila luka sudah menjadi gangren atau busuk, untuk perawatannya setelah digunting jaringan yang mati dan dikeluarkannya nanah kita lakukan kompres revanol dicampur norit dengan perbandingan 2 : 100 CC berfungsi untuk menyerap pus (nanah) agar bau busuk hilang, dilakukan tiap hari dan rutin hingga luka membaik. Setelah luka bersih dan tidak ada pus baru kita lakukan rawat luka dengan terapi gentamicin salep dan bioplacenton (untuk menumbuhkan jaringan). Demikian hasil dari perawatan luka dengan perawatan sederhana dapat dijangkau dan dapat dilakukan tanpa rawat inap